Brad Sugar, an entreprenuer, ActionCoach Says, ''life is a dance between intention and attention. Set your intention is about 20% and then focus your attention is about 80% ... that is, 20% dream, goal and plan, then 80% ACTION.''
Mengatakan, hidup adalah 'tarian' antara niat dan perhatian. Menetapkan niat Anda adalah sekitar 20% dari keberhasilan menuju tercapai, dan kemudian fokus perhatian Anda adalah sekitar 80% ... yaitu, dalam bahasa lainnya; 20% mimpi, tujuan, dan rencana. Kemudian 80% TINDAKAN.
If your action inspire other to dream more, learn more, do more, and become more. Kamu dikatakan pemimpin, jika sikapmu/tindakanmu menginspirasikan banyak hal. Dengan begitu berarti, bila kita bermimpi untuk diri sendiri, juga akan berimbas ke orang lain. Menjadi memberi mamfaat kepada yang lain.Semuanya adalah berlandaskan kebersamaan, antara butuh dan membutuhkan, kemudian memberikan, dan terus memberi (bisa dikatakan sedekah, ya hehe)
Berlaku mainstream (keluar arus) juga menguntungkan bagi yang jeli memakai/menggunakan/memamfaatkan situasi/keunggulan yang ada pada dirinya menjadi sebuah pendapatan untuk kemandirian. Melakoni buah telusur mimpinya yang aneh, dan imajinasinya yang unik/beda menjadi kenyataan.
Fist, Be grateful for what you have, and also for what you don't have.
Ayo.. kita mulai dari bersyukur untuk apa yang Anda miliki, dan juga untuk apa yang tidak Anda miliki. Itu agar apa yang hendak dicapai tidak mudah terpengaruh (mandeg) oleh aneka rintangan.
I am sure if there is a will, there is a way. Come on, don't turn off your dream
Saya yakin dimana ada kemauan, disitu ada jalan untuk sukses. makanya, tidak perlu 'mematikan' mimpi yang pernah termimpi.
Sampai disini, ya... tulisannya sedikit tidak bertalian. Begitulah kadang menulis. Bila lancar, akan mengalir begitu saja, tanpa edit dan menunggu mood yang baik.
Verba volant scripta manent, yang terucap menguap yang tertulis abadi. Semoga, Wassalam
Di Jepang dan Amerika keakraban anak dan orang tua kadang seperti berkawan saja. Kemana sosok ayah pergi, ada anaknya. Sejak kecil dibiasakan melihat, membantu pekerjaan/kegiatan mandiri/usaha sang ayah kala waktu yang menyempatkan dan seperti selalu disempatkan.
Setelah beranjak remaja anak itupun banyak yang bisa mandiri, mengurangi ketergantungan pemberian orang tua. Mengembangkan inisiatif/laku/pengalaman yang pernah ada (terstimulasi) Atau bisa saja ia jadi memiliki ide sendiri.
Setelah anak dewasa, ayah yang mampu pun, ada menantang anaknya baru lepas kuliah untuk mengeluti sebuah bisnis.
Saya juga demikian dulunya ditantang almarhum ayah setelah tamat SMA. Masih mengiang ucapannya, ‘’ Mau kaya?’’ ujarnya suatu waktu. ‘’berdaganglah,’’ itu saja pesannya.
Ya, kata ‘dagang’ memang tidak terasa populer, terkesan 'layangan' (konvensional/kuno). Pemangku/penggali publishing lebih keren mengatakan dengan istilah wiraswasta/wirausaha/entreprenuer.
Apapun istilahnya, yang dikatakan berjiwa dagang, perlu bergelut dengan kreatifitas, penuh terobosan, inovasi, spekulasi/perkiraan terkontrol intuisi, insting yang tajam, dan pandai mencari jalan/banyak akal untuk menemukan/menjalankan bidang perdagangan itu (self resourceful.)
Sayangnya, mengasah itu semua tidaklah dalam masa seketika, yang datang begitu saja. Tapi butuh pengulangan-pengulangan yang akhirnya menggunung menjadi pengalaman.
Penalaran orang tua/sang ayah diatas, itulah salah satu dari mamfaat untuk membangkitkan jiwa dagang sang anak/seseorang.
Sang ayahpun perlu menanamkan objektivitas untuk bisa menjadi pedagang . pandangan ini sebenarnya pernyataan mimpi/passion berupa keyakinan, berupa pilihan bahwa sukses sebagai pedagang, adalah pilihan hidup yang hebat.
Dengan pembiasaan/pengenalan sejak awal/dini diharapkan akan mampu melewati rintangan. Akan terus mengiang pada jiwa sang anak. Iapun jadi Bisa belajar dari kegagalan yang sudah terjadi dan mampu memandang prospek, peluang, atau perubahan baru (to be flexible) ke depannya step by step. Luwes berkeyakinan sukses dagang itu pasti akan datang pada waktunya.
Ini hanya paparan bahwa perdagangan dapat dimulai/dikenalkan sejak dini oleh orang tua. Dan perdagangan adalah cara cepat, tepat, dan terhormat untuk menjadi orang kaya. Bila sudah kaya anda tau sendiri bagaimana memamfaatkan kekayaan itu dengan ok.
So, apalagi.. tanamkanlah, carilah, biasankanlah jiwa dagang ini. Tidak dari ayah ya, makin mantap dari kesadaran diri sendiri, dan itu pasti bisa bila ada gairah untuk itu.
Selain rasa syukur, investasi duniawi yang banyak dilenakan adalah investasi tahu(ilmu). Sukses sedikit, apalagi banyak, hehe. Kita sering melupakan akan investasi tahu/ilmu kekinian yang sedang marak. Mengarah pada perubahan bertolak-belakang. Seperti dari rasa manual ke digital (Internet) yang belum semua teman kita merasakan.
Untuk menyadari hal ini, mari kita tolok (view) laku perusahaan nasional maupun multinasional. Lihatlah iklan di TV nasional. Konon mereka rela sampai membelanjakan 20% profit mereka untuk membayar durasi tayang. Tiada lain untuk mengokohkan exist mereka di mata konsumennya. Akan terus bisa bertahan oleh badai persaingan, terus bergerak maju tanpa terpengaruh pesaing-pesaingnya. Kita sama tahulah, bagi perusahaan wajib begerak maju, apapun caranya perusahaan harus alami pertumbuhan dengan target.
Tak terkecuali juga kita sebagai sosok pribadi. Yang muda-muda akan terus mencari kelemahan kita. Yang muda merasa bangga bisa mengalahkan yang lebih tua. Saat yang tua terhempas, yang muda-lah memegang kendali. Maukah terhempas atau kembali mengekor?
Thus, Simak apa kata Blair Singer : Somewhere else in the world, someone is practicing while you're not, and when you meet him, he'll beat you. (Di tempat lain di dunia, saat seseorang berlatih, dan Anda sedang tidak. Ketika Anda bertemu dengannya, dia akan mengalahkan Anda pada saatnya).
Karena itulah para artis/aktor/penyanyi/eksekutif yang telah eksis sebelumnya berwanti-wanti persiapkan diri. Kita perlu jugakah?
Kembali sebagai pribadi saat ini misalnya; Baru saja ulung, baru saja keluar dari kesempitan/keterbelakangan, berangkat dari ‘nol’ sekarang sudah sampai ke nilai angka ’7,’ orang biasa (ordinary people) sekarang sudah hebat.
Seharusnyalah sisihkan penghasilan untuk menggali tahu dan ilmu, tidak konsumtif belaka. Sebisanya tidak pelit, walau sebenarnya feedback pada diri tidak tampak segera, akan pengeluaran yang ada. Tapi dalam jangka panjang kontribusinya akan membuat ‘gemuk’ kematangan (future benefit), di bidang apapun profesi kita saat ini.
Yang tidak mau, lalai, merasa cukup, apalagi takabur dari yang telah ada, takutnya akan seperti segitiga tidak sama kaki-terbalik mengerenyut. Tidak elok kan?
Apa bentuk investasinya? Ya, bisa buku-buku, pelatihan, seminar, menulis seperti tulisan ini atau pulsa untuk internet, hehe.